Senin, 18 Februari 2013

tempat-tempat ibadah

Sendangsono

Langsung ke: navigasicari
Sendangsono adalah tempat ziarah Goa Maria yang terletak di Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta. Gua Maria Sendangsono dikelola oleh Paroki St. Maria Lourdes di Promasan, barat laut Yogyakarta.
Tempat ini ramai dikunjungi peziarah dari seluruh Indonesia pada bulan Mei dan bulan Oktober. Selain berdoa, pada umumnya para peziarah mengambil air dari sumber. Mereka percaya bahwa air tersebut dapat  menyembuhkan penyakit.
Catatan terkait memperlihatkan, Sendangsono awalnya merupakan tempat pemberhentian (istirahat sejenak) para pejalan kaki dari Kecamatan Borobudur Magelang ke Kecamatan Boro (Kulon Progo), atau sebaliknya. Tempat itu banyak dikunjungi karena keberadaan sendang (mata air) yang muncul di antara dua pohon sono.
Kesejukan dan kenyamanan tempat itu ternyata juga dimanfaatkan untuk bertapa oleh sejumlah rohaniawan Buddha dalam rangka mensucikan dan menyepikan diri. Nilai spiritualistik muncul dan menguat seiring dengan adanya kepercayaan yang didasarkan pada suatu legenda bahwa tempat itu juga dihuni Dewi Lantamsari dan putra tunggalnya, Den Baguse Samija.
Dari situ bisa dilihat bahwa sebenarnya nilai rohani Sendangsono sudah terbangun sebelum Gereja Katolik berkarya di tempat itu.
Keberadaan Sendangsono tak luput dari peran Romo Van Lith SJrohaniawan Belanda yang lama tinggal di Pulau Jawa. Hal itu juga menandakan bahwa Sendangsono tidak bisa dilepaskan dari lingkaran sejarah Gereja Katolik di Pulau Jawa mengingat Romo Van Lith sendiri merupakan salah satu rohaniwan yang menyebarkan ajaran Katolik di Pulau Jawa.

Sejarah

 
Relief di Sendangsono yang menggambarkan penduduk desa berpakaian adat Jawa sedang dibaptis.
Pada 14 Desember 1904 silam Romo Van Lith membaptis 171 warga setempat dengan air dari kedua pohon sono, termasuk Bapak Barnabas sebagai katekumen pertama. Dua puluh lima tahun kemudian tepatnya 8 Desember 1929 Sendangsono dinyatakan resmi menjadi tempat penziarahan oleh Romo J.B. Prennthaler SJ.
Patung Bunda Maria di Sendangsono dipersembahkan oleh Ratu Spanyol yang begitu susahnya diangkat beramai-ramai naik dari bawah Desa Sentolo oleh umat Kalibawang.
Pada 1945 Pemuda Katolik Indonesia berkesempatan berziarah ke Lourdes, dari sana mereka membawa batu tempat penampakan Bunda Maria untuk ditanamkan di bawah kaki Bunda Maria Sendangsono sebagai reliqui sehingga Sendangsono disebut Gua Maria Lourdes Sendang Sono.
Dibangun secara bertahap sejak tahun 1974, hanya dengan mengandalkan sumbangan umat. Budayawan dan rohaniawan, YB Mangunwijaya yang memberi sentuhan arsitektur. Konsep pembangunan kompleks Sendangsono ini bernuansa Jawa, ramah lingkungan. Bahan bangunannya memanfaatkan hasil alam.
Tahun 1991, kompleks bangunan Sendangsono mendapat penghargaan arsitektur terbaik dari ikatan arsitek Indonesia, untuk kategori kelompok bangunan khusus.
Pada 17 Oktober 2004, diadakan suatu prosesi dan misa ekaristi kudus pada jam 10.00 oleh Mgr. Ignatius Suharyo Pr untuk memperingati 100 tahun Sendangsono.

Kompleks ziarah

Sendangsono terletak beberapa kilometer dari jalan raya, masuk ke jalan yang lebih kecil, dibeberapa tempat jalan rusak sedikit tetapi mobil sedan masih bisa lewat dengan mulus dan jalan turun naik lumayan tinggi.
Memasuki jalan menuju lokasi seperti biasa di kiri kanan terdapat penjual barang-barang rohani, anda mungkin bisa membeli lilin atau jerigen atau botol berbentuk patung Bunda Maria untuk menyimpan air Sendangsono.
Komplek ziarah yang luasnya hampir 1 hektar ini. Dari pintu gerbang masuk, peziarah akan melewati jalan salib besar. Jalan salib besar ini berawal di gereja yang ada di bawah, beberapa ratus meter sebelum lokasi parkir Sendangsono ada jalan menuju ke bawah yang petunjuknya meskipun kurang jelas dan kecil tertulis gereja. Dari gereja inilah asal jalan salib lama tersebut. Jarak jalan salib ini sekitar 1 kilometer.
Di sebelah kanan dibangun jalan salib baru yang lebih kecil dalam arti jarak satu perhentian ke perhentian lain sangat dekat hanya beberapa langkah saja. Diorama-diorama kisah sengsara Yesus Kristus berbentuk kecil saja dan dinaungi semacam atap.
Di akhir jalan salib, akan memasuki pelataran yang di tengahnya dibagian bawah terdapat keran air untuk mengambil air dari mata air Sendangsono, yang terletak di sebelah atasnya, sumber mata airnya yang dibentuk seperti sumur ditutup.



Masjid Agung Mataram Kotagede, Yogyakarta

masjid Agung Mataram Kotagede (foto : kotajogja.com ) 

Catatan sejarah kekuasaan Sultan Agung, Raja terbesar Kesultanan Mataram terukir indah sebagai salah satu raja Jawa yang melakukan peperangan sengit melawan penjajahan Belanda. Beliau melakukan dua kali ekspedisi militer menyerang pusat kekuatan Belanda di Batavia. Meski dua serangan tersebut mengalami kegagalan namun jejak yang ditinggalkan masih dapat ditelusuri hingga kini terutama disekitar kota Batavia atau kini kita kenal sebagai kota Jakarta.

Beberapa kawasan dan masjid masjid tua di kota Jakarta tak dapat dilepaskan dari pasukan Kesultanan Mataram yang tergabung dalam ekspedisi militer yang dilakukan oleh Sultan Agung ke Batavia. Diantaranya adalah Masjid Jami’ Matraman, Masjid Jami al-Mansyur di Sawah lio – Jembatan lima, Masjid Al-Ma’mur di Tanah Abang, dan bila membaca sejarah Masjid Jami Cikini Al-Ma’mur kita akan menemukan fakta bahwa Raden Saleh yang mewakafkan tanahnya untuk pembangunan masjid tersebut beristrikan seorang putrid dari keraton Mataram.

Masjid Agung Mataram Kotagede (foto : yogyes.com
Tak hanya masjid masjid di Jakarta yang memiliki sentuhan sejarah dengan kebesaran Kesultanan MataramMasjid Agung Karawang di pusat kota Karawang pun pernah menjadi tempat persinggahan pasukan Mataram dalam penyerbuan ke Batavia mengingat kala itu Karawang merupakan wilayah bawahan Kesultanan Mataram dan turut membantu penyediaan logistik bagi pasukan tersebut.

Sultan Agung wafat tahun 1645 dan dimakamkan di Imogiri, ia digantikan oleh putranya yang bergelar Sunan Amangkurat-I. Sejak naik tahtanya Amangkurat I Kesultanan Mataram mengalami konflik internal akibat berbagai ketidakpuasan. Sunan Amangkurat I wafat di Tegalarum tahun 1677. Perselisihan dan pertikaian internal kerajaan tak kunjung usai sampai ahirnya Kesultanan Mataram terpecah menjadi dua kerajaan dengan ditandatanganinya Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755.

Pembagian wilayah Mataram di tahun 1830. Awalnya terdiri dari dua wilayah, Yogya dan Surakarta lalu pecah lagi menjadi empat dengan eksisnya Mangkunegaran dan Pakualaman. Wilayah Yogya sendiri memiliki beberapa exclave dari negeri tetangganya.
Perjanjian Giyanti tersebut membagi dua Kesultanan Mataram menjadi Kesultanan Ngayogyakarta dengan Pangeran Mangkubumi sebagai raja pertama bergelar Sultan Hamengkubuwana-I dan Kasunanan Surakarta dengan Sunan Pakubuwana III sebagai raja pertama. Dan Berakhirlah era Kesultanan Mataram sebagai satu kesatuan politik dan wilayah.

Sejarah Masjid Agung Mataram Kotagede

Masjid Besar Mataram, atau Masjid Agung Mataram, semula merupakan sebuah langgar yang di bangun Ki Ageng Pemanahan. Artinya Masjid ini sudah eksis sejak masa Kesultanan Pajang, dan wilayah kotagede (Mataram/Alas Mentaok) masih merupakan wilayah swatantra di bawah kekuasaan Kesultanan Pajang, sebelum Kesultanan Mataram Bediri ditandainya dengan dilantiknya Sutawijaya menjadi Panebahan Senapati (berkuasa 1588-1601), sebagai pertama raja Kesultanan Mataram, di tahun 1588M. 

Monumen peringatan pembangunan Masjid oleh Kasunanan Surakarta berdiri megah di halaman masjid ini, menandai bahwa Pakubuwono X penguasa Kasunanan Surakarta penah membangun masjid ini saat Kotagede menjadi exclave Surakarta. Dibagian belakang terlihat gerbang yang sangat bercorak Hindu (foto : Panoramio)
Sutawijaya atau Panebahan Senapati mengembangkannya langgar yang dibangun ayahnya itu menjadi sebuah masjid dengan kerangka bangunan seluruhnya dari kayu jati, ditopang empat buah saka guru berukuran 0,3 x 0,3 x 5 m, serta membuat liwan (ruang utama masjid) dan mihrab. Disebutkan pula bahwa Sultan Agung (memerintah tahun 1613-1645) turut membangun bangunan inti masjid ini.

Paska Perjanjian Giyanti hingga tahun 1952 sebagian wilayah Kotagede dan Imogiri menjadi ekslave Kasunanan Surakarta di dalam wilayah Kesultanan Ngayokyakarta. Pada 1796, Kasunanan Surakarta melakukan perluasan serambi Masjid Agung Mataram, dan pada 1867 dilakukan perbaikan lagi setelah terjadi gempa hebat.

dua tanda tahun di fasad depan masjid ini menandakan dua periode pembangunan masjid ini (foto : profesirandi)
Di fasad depan masjid terukir angka tahun 1856 dan 1926, merupakan tahun dilakukannya penambahan emperan dan tempat wudhu, serta pengantian atap sirap dengan genteng. Sedangkan angka 1926 merupakan tahun dibangunnya pagar masjid, serta tugu ketika Kasunanan Surakarta diperintah oleh Paku Buwono X.

Pada 1997, dilakukan pemasangan teraso pada liwan. Kemudian pada 2002 dilakukan renovasi besar dengan memasang marmer Italia di liwan dan pawestren, pelapisan dinding jagang (kolam air yang mengelilingi serambi) dengan terakota, penggantian dinding dan alas bak wudhu, serta perbaikan gapura dan dinding pagar masjid. Sedangkan menara pengeras suara Masjid Besar Mataram dibangun pada 2003.


Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong




sebuah petilasan, yaitu bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama islam yang bernama Zheng He / Cheng Ho. Terletak di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang. Tanda yang menunjukan sebagai bekas petilasan yang berciri keislamanan dengan ditemukannya tulisan berbunyi "marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur'an".
Disebut Gedung Batu karena bentuknya merupakan sebuah Gua Batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu., orang Indonesia keturunan cina menganggap bangunan itu adalah sebuah kelenteng - mengingat bentuknya berarsitektur cina sehingga mirip sebuah kelenteng. Sekarang tempat tersebut dijadikan tempat peringatan dan tempat pemujaan atau bersembahyang serta tempat untuk berziarah. Untuk keperluan tersebut, di dalam gua batu itu diletakan sebuah altar, serta patung-patung Sam Po Tay Djien. Padahal laksamana cheng ho adalah seorang muslim, tetapi oleh mereka di anggap dewa. Hal ini dapat dimeklumi mengingat agama Kong Hu Cu atau Tau menganggap orang yang sudah meninggal dapat memberikan pertolongan kepada mereka.[1]
Menurut cerita, Laksamana Zheng He sedang berlayar melewati laut jawa ada seorang awak kapalnya yang sakit, ia memerintahkan membuang sauh. Kemudian ia merapat ke pantai utara semarang dan mendirikan sebuah masjid di tepi pantai yang sekarang telah berubah fungsi menjadi kelenteng. Bangunan itu sekarang telah berada di tengah kota Semarang di akibatkan pantai utara jawa selalu mangalami pendangkalan diakibatkan adanya sedimentasi sehingga lambat-laun daratan akan semakin bertambah luas kearah utara.
Konon, setelah Zheng He meninggalkan tempat tersebut karena ia harus melanjutkan pelayarannya, banyak awak kapalnya yang tinggal di desa Simongan dan kawin dengan penduduk setempat. Mereka bersawah dan berladang ditempat itu. Zheng He memberikan pelajaran bercocok-tanam serta menyebarkan ajaran-ajaran Islam.
 sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Klenteng_Sam_Po_Kong




Vihara Avalokitesvara dan Pagoda Kwan Im Watugong

Pagoda AvalokitesvaraPagoda Kwan Im, bangunan yang terdapat di kompleks Vihara Buddha Gaya Watugong ini mempunyai nilai artistik tinggi 39 meter. Dibangunan tahun 2005 dan terletak persis di depan Makodam IV/Diponegoro Semarang. Bangunan yang mempunyai tujuh tingkat ini terdapat patung Dewi Welas Asih dari tingkatan kedua hingga keenamnya. Namun sedikitnya 20 patung Kwan Im dipasang di Pagoda tersebut. Pemasangan Dewi Welas Asih ini disesuaikan dengan arah mata angin. Hal ini dimaksudkan, agar Dewi yang selalu menebarkan cinta kasih tersebut bisa menjaga Kota Semarang dari segala arah.
Bangunan yang merupakan pelengkap ruang Metta Karuna di Vihara Avalokitesvara Srikukusrejo Gunung Kalong dan memiliki seni arsitektur yang sangat tinggi ini adalah salah satu kebanggaan warga Kota Semarang pada khususnya, dan Jateng pada umumnya. Karena, saat ini pengunjung Vihara Buddha Gaya tidak hanya umat Budha saja, tapi juga umat agama lain dan sangat cocok untuk dijadikan salah satu tujuan wisata religius. Meski pagoda ini yang tertinggi di Indonesia, namun pagoda lain juga terdapat di Madiun, Singkawang dan Lembang. Jadi, Pagoda ini bukan satu-satunya di Indonesia
Selain Pagoda Kwan Im Watugong terdapat juga Vihara Avalokitesvara Sri Kukusrejo Gunung Kalong tempat ini tak jauh dari lokasi Pagoda Kwan Im, hanya terus ikuti arah Jogja-Solo 2 KM setelah Polres Semarang, Ungaran tepat di sebelah kanan jalan terdapat ada papan nama bertuliskan Vihara Avalokitesvara Sri Kukusrejo Gunung Kalong.
Vihara Avalokitesvara Sri Kukusrejo Gunung Kalong ini berawal dari sebuah tempat pertapaan yang konon pernah disinggahi oleh Kiai Ageng Pandanaran untuk bermalam yang pada waktu itu salah satu bekal perjalanan Kiai Ageng Pandanaran kelong yang berarti kurang (berkurang) karena dicuri yang akhirnya tempat tersebut dinamakan Gunung Kalong.
Dari sebuah ilham yang didapatkan dari pertapaan seorang spiritual dari Ambarawa, Joyo Suprapto, dimana waktu itu beliau saat bertapa ditempat tersebut mendapatkan sebuah ilham untuk membangun sebuah vihara di tempat pertapaannya tersebut hingga akhirnya tempat ini atau sekarang bernama Vihara Avalokitesvara Sri Kukusrejo Gunung Kalong mulai dibangun sekitar tahun 1963 dan pada 12 Juli 1965 tempat tersebut mulai dibangun vihara dan diresmikan oleh Pemerintah dan hingga saat ini dikelola oleh Yayasan Sri Kudusrejo.
Tepat pada tanggal tertentu terutama saat ulang tahun Vihara pada tanggal 12 Juni, tempat ini selalu ada kegiatan atau agenda doa-doa yang dihadiri oleh banyak kalangan dari dalam hingga luar negeri terutama bagi yang beragama Budda. Misalnya ketika acara berdoa bersama memperingati Makco Kwan Im Poo Sat naik ke atas nirwana ketika sudah meninggalkan sifat duniawi dan menemui Sang Budha hingga turun lagi ke Bumi dengan membawa berkah bagi umat manusia. Selain Makco Kwan In juga saat memperingati Kathina, dimana semua umat yang mengikuti ritual doa kepalanya diperciki air. Sembari umat memancatkan doa-doa, seorang Bante berjalan menghampiri umat satu persatu untuk memercikkan air di kepalanya. Percikan air di kepala itu dipercayai untuk keselamatan para umat.
Dibalik semua agenda religius, Vihara Avalokitesvara ini juga berhasil memecahkan beberapa rekor Muri dengan pembuatan replika ikan koki terbesar berukuran panjang 36 meter, tinggi 20 meter, dan lebar 16 meter. Rekor tersebut merupakan kali kedelapan setelah sebelumnya memecahkan rekor Muri untuk pembuatan lampion terbanyak (2002), replika naga terbesar (2003), teratai suci memecahkan tiga rekor (2004), dan replika ayam emas (2005).

sumber : http://semarangan.loenpia.net/bangunan-bersejarah/vihara-avalokitesvara-dan-pagoda-kwan-im-watugong.htm

0 komentar:

Poskan Komentar